Rabu, 08 Januari 2014

Retold from real story by Apollo

Retold from real story by Apollo

Mungkin kalian pernah mendengar atau bahkan pernah melihat salah satu hotel di Bali yang disana terdapat sebuah kamar yang tidak boleh disewa oleh para tamu-tamunya dan dikamar tersebut adalah kamar yang khusus diperuntukan bagi mahluk halus untuk tinggal.

waktu itu aku dan beberapa temenku menikmati hari libur kami di pulau dewata itu dan pada malam itu setelahsemuanya puas bermain kami semua melepas rasa lelah diatas kasur yang empuk di salah satu hotel bintang 3 yang terdapat di salah satu jalan di Bali. Hotel tempat kami menginap ini sangat dekat dengan tempat penjualan aksesoris-aksesoris unik khas pulau dewata.

Semua pengalaman unik itu dimulai ketika teman-temanku telah tertidur.

Entah mengapa malam ini aku tidak mengantuk meskipun rasa lelah ini hinggap di tubuhku.

Insomnia membuatku bingung harus melakukan apapun. Dalam kebingungan itu perut pun ikut merasa lapar. Saat aku hendak kebawah dengan menggunakan lift untuk membeli cemilan dipinggiran pantai, namun sesampainya didalam lift sebuah kejadian aneh mulai terjadi, karena tiba-tiba lift nya bergerak sendiri dan berhenti di lantai 4. Awalnya aku berusaha menutupi rasa takutku dan meyakinkan pada pemikiranku bahwa ada seseorang yang mencoba iseng dan menakutiku.
Meski kucoba memberanikan diri, tapi bulu kuduk pun langsung merinding dilantai itu.

Disana seperti terpancar suatu suasana yang berbeda dan tercium bau kembang yang sangat wangi bercampur kemenyan, rasa aneh yang kurasakan sekarang ini justru membuatku semakin penasaran, mungkin karna jiwa muda yang memang masih bergejolak didalam diriku ini penyebabnya.

Ku keluarkan sedikit kepalaku dari lift yang terbuka itu sambil melihat ke kanan dan kiri sambil mencari sumber bau tersebut, semakin berjalan jauh dari lift dan mendekati sumber itu, bulu kuduk semakin merinding, tanpa sengaja aku yang berjalan di salah satu lorong di hotel tersebut terhenti di depan sebuah kamar dengan no 4 menempel pada pintunya.

Kamar yang awalnya tertutup itu tiba-tiba terbuka sendiri, dan aroma bunga melati yang kucium tadi semakin kuat.

Dari depan pintu itu terlihat sesosok wanita yang sangat cantik sedang menangis terisak-isak, jujur saja aku memang takut saat itu tapi tanpa kusadari rasa takut itu seolah-olah hilang begitu saja saat melihatnya. Kucoba mendekat dan berusaha menghiburnya namun saat aku sudah sangat dekat dengannya, wanita itu melompat dari balkon kamarnya itu, sontak saja hal tersebut membuatku terkejut dan secara reflek langsung melihat kebawah, dan malang sekali dari atas terlihat wanita cantik itu telah menjadi mayat yang berlumuran darah.

Sambil berteriak-teriak aku meminta pertolongan pada siapapun yang mendengarku. Petugas kebersihan, maupun orang-orang seperti tak peduli dengan teriakanku, mereka tampak diam dn melakukan pekerjaannya, rasa khawatir dan kemanusiaan yang ada pada diriku tergerak. Aku pun bingung terhadap apa yang terjadi, seolah tubuh ini telah dikendalikan untuk menjalani drama mengerikan ini tanpa rasa takut terhadap apapun.

Dengan menggunakan tangga aku turun kebawah dan mencoba mencari mayat wanita yang terjatuh tadi, tapi mayat tersebut hilang bahkan seolah tak pernah ada jejak kejadian apapun disana.

Aku pun tersadar sepenuhnya ketika ada seorang petugas yang berjaga malam menepuk pundakku dan memberikanku air minum.

Dia berkata padaku bahwa sebenarnya dia mengawasi gerak-gerik anehku dari tadi, namun dia tak mau mengambil tindakan apapun karena yang kulakukan masih tahap wajar. Sampai akhirnya aku ceritakan semua yang kulihat tadi padanya. Petugas itu tersenyum dan menceritakan bahwa dulu pernah terjadi kasus bunuh diri, yakni seorang gadis muda melompat dari kamar no 4 dilantai 4 tersebut. Aku sempat terdiam sesaat karena tak menyangka akan mengalami peristiwa seperti ini. Tak lama dari itu aku pun berpamitan padanya. Dia pun tersenyum dan menyarankanku untuk lebih berhati-hati.

Masih terasa kekacauan dalam pikiranku karena peristiwa ini, aku pun melanjutkan keinginanku untuk mencari cemilan untuk dimakan. Baru saja aku keluar dari hotel tersebut di hadapanku terpampang sebuah poster yang didalamnya terdapat foto beberapa orang dan salah satunya foto petugas yang kujumpai tadi.
Yang membuatku ingin pingsan saat itu yakni ketika aku melihat sebuah kalimat yang tertulis dibawah gambar itu.

"1000 doa untuk mengenang korban legian".
Read More ->>

"Menumpang Kereta Hantu"


"Menumpang Kereta Hantu"

Bernard, teman ayahku pernah bercerita, pekerjaannya menjadi seorang supplier membuatnya tidak hari dia harus pulang pergi Manggarai- Citayam. Hari itu, Bernard dalam perjalanan dari Surabaya menggunakan kereta api dia tiba di Stasiun Manggarai kemudian menyambung kereta listrik ke Stasiun Citayam, tetapi dia kemalaman.

Malam itu waktu sudah menunjukan pukul 21.30 WIB tepat di Stasiun Manggarai, suasana stasiun sepi sekali, hanya ada 1-2 pedagang yang sedang membereskan dagangannya karena memang stasiun sudah mau di tutup, bahkan ketika Bernard sampai di stasiun ini loket belum lama di tutup.

Akhirnya dia hanya bisa menunggu dan menunggu, ia berharap masih ada kereta balik. Sementara udara semakin dingin, disertai gerimis, entah dari mana datangnya terlihat sebuah cahaya terang yang semakin lama semakin mendekat ke arah peron kereta.

Kemudian kereta tersebut perlahan-lahan melambat, sempat berhenti lumayan lama tetapi pintunya tidak terbuka, kira-kira 5menit lamanya. Melihat itu Bernard emosi. Dia sempat memaki, mau nunggu apa lagii sih, nunggu setan naik apa ? gumamnya penuh emosi. Tak berselang lama kemudian pintu kereta pun terbuka.

Dengan setengah dongkol dia naik ke dalam rangkaian kereta paling depan alangkah terkejutnya, saat pintu tertutup dan kereta api mulai berjalan perlahan situasi gerbong sangat sepi.

Situasi kereta yang biasanya berisik, kini tidak terlihat seperti biasanya. Penumpangnya hanya tertunduk diam, bahkan ada yang terlihat sedih, sebagian lagi terlihat pucat. Dilihatnya satu persatu penumpang itu tapi tidak ada satu juga yang balik menatapnya. Suasana begitu mencekam.

Untuk menghibur diri Bernard sempat bercanda dalam hati ” Ehh,,, lagi pada puasa ngomong ya ataw mngkin lg sakit gigi mngkin, tapi masak iya sakit giginya kompak sih, janjian kali yak,” gumamnya.

Coba kalian bayangkan naik kereta dengan org-org yg berwajah sedih,pucat entah kenapa badan Bernard terasa berat, hawa-hawa negatif sudah menjalar sekujur tubuhnya. Belum habis rasa penasaran dihatinya, Bernard dikejutkan oleh suara yang datang dari arah belakang tempatnya masinis yang tadi di lihatnya saat dia berada di peron kereta itu datang dan menghampirinya dengan wajah yang pucat, matanya sedikit berlinang, tetapi bukan air mata melainkan darah. Tentu saja itu membuatnya syok bukan kepalang. Orang ini menanyakan tujuannya tetapi tidak menanyakan karcis, aneh bukan.

Bernard pun menjawab akan ke Stasiun Citarum dengan terbata-bata seraya menunduk serta menggigil ketakutan karena yg dilihat nya sedikit menyeramkan. Kemudian masinis itu menjawab, ”Oh, baiklahhsepertinya..bapak sudah sampai di tujuan,
sebelum turun ada baiknya kaki kiri lebih dahulu, karena kalau itu tidak bapak lakukann, akan terjadi sesuatu,” ujarnya

Selesai berbicara Bernard pun melihat ke arah jendela dan benar apa yg di katakan masinis berwajah pucat peron stasiun Citayam pun terlihat. Tak lama kereta pun sampai dan pintu pun terbuka, walaupun takut dia mengumpulkan keberaniannya dan hendak mengucapkan terima-kasih kepada masinis tadi, tetapi masinis itu sudah tidak terlihat lagi.

Mendadak keadaan di dalam kereta itupun berubah drastis. Bau busuk, serta anyir darah menebar, Bernard pun melompat turun dari kereta dengan kaki kanan. Kontan para penumpang nya berubah semua, wajah-wajah nya ada yang terlihat hancur bahkan ada yg kepalanya tertembus batang besi pegangan kereta, sebagian terlihat hancur dgn wajah dan mata yg keluar dari tempatnya, gigi hancur demgan mulut bersimbah darah.

Betapa pemandangan yang mengejutkan dan membuat bulu kuduk nya berdiri, bahkan yang paling membuat dia terkejut, saat dia melihat masinis kereta yang baik tadi, ada di kereta paling buntut, lengan kanannya memegang sesuatu yang membuat dia bergidik ngeri, sebuah kepala dgn wajah separuh hancur, penuh pecahan kaca serta tangan kirinya putus, hanya terlihat tetesan darah serta urat-urat yg berjuntai- berayun mengikuti ayunan kereta yg saat itu berjalan perlahan dan kemudian menghilang ditelan kabut.

Bernard merasa semua itu pasti mimpi, keheningan terpecah ketika Seorang tukang ojek sepeda motor menggunakan jaket hujan menghampirinya & berkata “Ojek pak” dia pun curiga dan sempat menatap tajam dan memperhatikan dengan seksama, jangan-jangan nih tukang ojek, juga setan lagi, setelah di putuskan bahwa ini tukang ojek adalah asli manusia, dia pun beranjak naik dan mulai menceritakan kisah yg baru saja di alaminya.

Si tukang ojek tersebut’pun merinding mendengar ceritanya itu. pertama dia tidak percaya, tapi setelah dia mengingat-ingat memang Stasiun Citayam pada saat itu sepi, bahkan sore tadi baru saja ada kejadian.

Keesokan harinya., Bernard pun terbangun dari tidurnya dengan linglung, dia dikejutkan berita dengan tabrakan dua kereta listrik. Baru di sadarinya kalau kereta yang dia naiki adalah kereta hantu korban tabrakan pagi tadi.
Read More ->>